renca alv akuisisi tifanny & co

Kisah Louis Vuitton dan Tifannya & Co Kisah Louis Vuitton dan Tifannya & Co

Kisah Louis Vuitton dan Tifannya & Co – Berikut ini merupakan artikel yang membahas tentang kisah bisnia louis vuitton dan tifanny & co yang berawal dari cinta dan menjadi benci.

Tiffany & Co. (dikenal sehari-hari sebagai Tiffany atau Tiffany) adalah perusahaan ritel perhiasan dan barang-barang antik Amerika Serikat yang bermarkas di Kota New York. Perusahaan ini menjual dan menyediakan perhiasan, perak, porselen, kristal, alat tulis, wewangian, botol air, jam tangan dan aksesoris pribadi, serta beberapa barang kulit.

Tiffany terkenal dengan barang-barang mewahnya dan terkenal dengan berlian dan perhiasan peraknya. Perusahaan ini memasarkan dirinya sebagai salah satu standar gaya seni kontemporer. Banyak dari barang-barang ini dijual di toko-toko Tiffany banyak menyebar di seluruh dunia, serta melalui surat langsung dan kontrak kerja sama dengan perusahaan dan pemerintah lain.

Raksasa produk fesyen mewah asal Perancis, Louis Vuitton (LVMH) dan Tiffany & Co kini saling membenci dari yang sebelumnya saling mencinta. Hal itu terjadi setelah rencana akuisisi dibatalkan. Kedua perusahaan pun saling menuntut.

Melansir BBC, Rabu (30/9/2020) LVMH pernah mengatakan bahwa Tiffany berdiri untuk cinta, tetapi sekarang perusahaan perhiasan di New York ini dianggap salah kelola dengan prospek yang suram.

Pemilik Louis Vuitton mengaku menggugat balik Tiffany dalam kasus pembatalan akuisisi senilai US$ 16,2 miliar. LVMH menilai perusahaan perhiasan tersebut bukan lagi bisnis yang disepakati untuk dibeli.

Meski demikian, pihak Tiffany mengatakan, argumen spekulatif pihak LVMH merupakan upaya untuk tidak membayar US$ 135 per saham yang telah disepakati pada proses akuisisi.

Tiffany sendiri sudah mengajukan gugatan terhadap LVMH setelah perusahaan membatalkan kesepakatan akuisisi yang awalnya bisa terjadi di November.

Baca Juga :Louis Vuitton Keluarkan Face Shield

“Argumen LVMH adalah upaya terang-terangan lainnya untuk menghindari kewajiban kontraknya untuk membayar harga yang disepakati untuk Tiffany,” kata Ketua Tiffany, Roger Farah.

Dalam tuntutan, LVMH mengatakan ada lima petinggi Tiffany yang menerima bonus US$ 100 juta jika kesepakatan akuisisi dilanjutkan.

“Bisnis yang diusulkan LVMH untuk diakuisisi pada November 2019 tidak lagi ada,” kata LVMH dalam dokumen pengadilan.

LVMH awalnya menawarkan US$ 120 per saham untuk Tiffany atau sebelum dinaikkan menjadi US$ 135 per saham. Sejak itu, harga saham Tiffany turun dan sekarang diperdagangkan pada kisaran US$ 116,44 per saham.